Home MENJAWAB Tanggapan JAI FITNAH : HADHRAT MIRZA GHULAM AHMAD (pendiri Ahmadiyah) MENGAKU SEBAGAI TUHAN"
FITNAH : HADHRAT MIRZA GHULAM AHMAD (pendiri Ahmadiyah) MENGAKU SEBAGAI TUHAN"
Kajian - Tanggapan JAI

Fitnah Berikutnya adalah adanya pernyataan dari beberapa kelompok Islam yang menyatakan bahwa "MIRZA GHULAM AHMAD  (pendiri Ahmadiyah)  MENGAKU SEBAGAI TUHAN".

JAWABAN : Pernyataan tersebuat adalah ungkapan plesetan buatan orang yang anti kepada Pendiri Ahmadiyah untuk mencari kawan dalam memusuhi Ahmadiyah dan pendirinya. Pengakuan beliau yang sebenarnya berbunyi demikian:

رَأَيْتُنِي فِى الْمَنَامِ عَيْنَ اللهِ

Artinya: Aku melihat diriku dalam mimpi sebagai Allah (Ainah Kamalati Islam, hal. 564)

Melakukan perbuatan apa saja dalam alam mimpi itu boleh-boleh saja, meskipun di alam lahir hal itu diharamkan seperti mimpi Nabi yusuf as yang mengatakan 11 bintang, bulan dan matahari bersujud kepada beliau. Dapatkah beliau dikatakan mengaku sebagai tuhan? Imam Abu Hanifah pernah bermimpi mengumpulkan tulung-tulang Rasulullah saw dari liang kubur, sebagian beliau senangi dan sebagian beliau buang. Dapatkan beliau dituduh berbuat dosa atau kurang ajar? Karena membongkar makam Rasulullah saw itu diharamkan, apalagi membuang tulang-tulang beliau. Bahkan Rasulullah saw sendiri pernah bermimpi mengenakan 2 gelang emas di tangannya. Dapatkan beliau dikatakan berbuat dosa, karena orang laki-laki itu diharamkan memakai perhiasan dari emas?

 

Peristiwa dalam mimpi tersebut harus dita’birkan. Adapun ta’bir mimpi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  tersebut menurut beliau adalah sebagai berikut: “Kami tidak memaknakan peristiwa ini sebagaimana yang dimaknakan dalam kitab-kitab para pengikut Wahdatul-Wujud (yakni aku sendiri adalah Tuhan), dan kami tidak memaknakan hal itu seperti pendapat para Hululiyin (Tuhan menitis dalam diriku), bahkan peristiwa ini sesuai dengan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Hadis Bukhari tentang penjelasan martabat hamba-hamba Allah yang shaleh yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa Ta’ala dengan melakukan ibadah nafal yang terjemahan selengkapnya berbunyi:

Seorang hamba-Ku yang senantiasa berusaha mendekat kepada-Ku dengan mengerjakan ibadah nafal sehingga Aku mencintainya, apabila Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat; Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar; Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan; Aku akan menjadi hatinya yang dengannya ia berfikir; Aku menjadi lidahnya yang dengannya ia berbicara; jika ia memanggil-Ku Aku menjawabnya; jika ia meminta kepada-Ku Aku memberinya; Aku tiada ragu melakukan sesuatu selain mencabut nyawanya yang demikian itu karena ia benci kepada kematian itu dan Aku membenci keburukannya (Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Abu Ya’la dalam Musnadnya, Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, Abu Nu’aim dalam Ath-Thib, Al-Bukhari, Muslim dalam Az-Zuhd, Ibnu Asakir dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dan Kanzul-Ummal, Juz I/1157)

 

Dengan demikian mimpi melihat diri beliau sebagai Tuhan itu bukan perbuatan syirik yang diharamkan, tetapi justeru menunjukkan beliau itu seorang hamba yang dekat dengan Tuhan dan mendapatkan karunia bimbingan-Nya, sebagaimana pendapat Allamah Sayyid Abdul Ghani An-Nablusi, seorang Ulama ahli dalam ta’bir mimpi menyatakan:

 

مَنْ رَأَى فِى الْمَنَامِ كَأَنَّهُ صَارَ الْحَقَّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى اِهْتَدَى إِلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ

Artinya: Seorang yang melihat dalam mimpi bahwa ia seolah-olah menjadi Tuhan, maka artinya ialah Allah subhanahu wa Ta’ala akan segera menyampaikannya ke jalan yang benar( Ta’birul-Anam, cetakan Mathba’ Ijazi, Kairo, hal. 90).

 

 

 

Cari Di sini

Custom Search

Translation

English Arabic Bulgarian Chinese (Simplified) Croatian Czech French German Italian Portuguese Russian Spanish

Artikel lain

Petunjuk

Penulisan nomor ayat-ayat Al-Quran dalam Website ini berdasarkan Hadis Nabi Besar Al-Mushthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayat sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, yang menunjukkan bahwa setiap basmalah pada tiap awal surat adalah ayat pertama surat itu. كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَعْرِفُ فَصْلَ السُّوْرَةِ حَتَّى يَنْزِلَ عَلَيْهِ بِسْمِ اللهِ الرَّحمْـاـنِ الرَّحِيْمِ “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui pemisahan antara surat itu sehingga bismillaahir-rachmaanir-rachiim turun kepadanya.” (HR Abu Daud, “Kitab Shalat”; dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”)

Search Engine Islami Indonesia

Moslem TV

Archive



Jazakumullah by: owner. Link Web and Blog.