| Tafsir Surah Al-Fatihah Bag. II |
| Tafsir AlQuran - Tafsir AlQuran | |
|
Al Qur’aan dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat di bawah ini merupakan terjemahan dari Tafsir Saghiir, karya Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a.,, Beliau merupakan Khalifah Jamaah Islam Ahmadiyah ke II Al-Fatihah dinubuatkan di dalam Kitab Perjanjian Baru Tetapi, nama yang terkenal Surah ini adalah Al Faatihah. Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa, nama itu juga tercantum dalam nubuwatan Perjanjian Baru: “Dan aku melihat seorang Malaikat lain yang kuat turun dari surga, … dalam tangannya ia memegang sebuah gulungan kitab Kecil yang terbuka. Ia menginjakkan kaki kanannya diatas laut dan kaki kirinya di atas bumi,…” (wahyu 10: 1-2). (Alkitab terdjemahan baru terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, Djakarta 1974 – peny.) Kata dalam bahasa Ibrani untuk “terbuka” ialah Fatoah yang sama dengan kata Arab Faatihah. Pula : “… dan sesudah ia berseru, ketujuh guruh itu memperdengarkan suaranya” (Wahyu 10 : 3). Tujuh guruh mengisyaratkan kepada tujuh ayat Surah ini. Para Sarjana Kristen mengatakan bahwa nubuwatan itu mengisyaratkan kepada kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya. Hal itu telah dibuktikan oleh kenyataan-kenyataan yang sebenarnya. Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, yang dalam wujudnya nubuwatan tentang kedatangan nabi Isa a.s. kedua kalinya telah menjadi sempurna, menulis tafsir mengenai Surah ini dan menunjukkan bukti-bukti serta dalil-dalil tentang kebenaran da‘wanya dari isi Surah ini dan beliau senantiasa memakainya sebagai do’a yang baku. Beliau menyimpulkan dari tujuh ayat yang pendek-pendek ini, ilmu-ilmu makrifat Ilahi dan kebenaran-kebenaran kekal abadi yang tidak diketahui sebelumnya. Seolah-olah surah ini sebuah kitab yang dimeterai hingga khazanah itu akhirnya dibukakan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Dengan demikian, sempurnalah nubuwatan yang terkandung dalam Wahyu 10 : 4. “Dan sesudah ketujuh guruh itu selesai berbicara, aku mau menuliskannya, tetapi aku mendengar suatu suara dari sorga berkata : “Meteraikanlah apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu dan janaganlah engkau menuliskannya!” Nubuwatan itu menunjuk kepada kenyataan bahwa Fatoah atau Al Faatihah itu untuk sementara waktu, akan tetap merupakan sebuah kitab yang tertutup, tetapi suatu waktu akan tiba, ketika khazanah ilmu rohani yang dikandungnya akan dibukakan. Hal itu telah dilaksanakan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Hubungan dengan Bagian Lain Al Qur’aan Surah ini seakan-akan merupakan pengantar kepada Al Qur’aan dalam bentuk miniatur. Dengan demikian pembaca semenjak ia mulai mempelajarinya, telah diperkenalkan dalam garis besarnya kepada masalah-masalah yang akan dijumpainya dalam Kitab Suci itu. Diriwayatkan, Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa, Surah Al Faatihah itu Surah Al Qur’aan yang terpenting (Bukhaari).
|
Popular
Cari Di sini




